Kupandangi bunga sakura yang bermekaran lewat jendela asramaku, indah
dan tak akan pernah bisa kutemukan di kota kelahiranku. Kucoba menikmati segala
suasana yang ada namun seberapa dalampun kuhirup keindahan itu tetap saja ada
ruang dalam dimensi jiwaku yang belum terisi.
Pandanganku terhenti pada bingkai cantik di meja belajarku. Wajah
polos dengan busana putih abu-abu tertata indah dalam benda persegi itu.
Sekilas rekaman masa lalu itu terputar kembali.
“Segala ilmu selalu bernilai positif, namun terkadang penggunanya
membuatnya menjadi negative. Ilmu nuklir dimanfaatkan dalam pembuatan bom yang
oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab digunakan untuk merusak segala
fasilitas yang ada dengan misi-misi tertentu. Bagaimanapun segala sesuatu itu
akan selalu positif bila diarahkan kepada hal yang positif”. Kuakhiri pidato
singkatku dengan salam yang disambut gemuruh tepuk tangan siswa-siswa dan
guru-guru yang hadir dikegiatan yasinan sekolah kami. Tanpa kusadari ada
sepasang mata berbinar disudut sana dengan fikiran yang tak mampu ketebak
begitu memperhatikanku. Kuhembuskan nafas lega, aku berharap penampilanku yang
untuk pertama kalinya di depan umum sepanjang sejarah di sekolah ini bisa
menciptakan memori dibenakku dan orang-orang disekelilingku. Aku memang dikenal
sebagai siswa yang pendiam yang terkesan jauh dari lingkungan social, namun
hari ini aku menunjukkan sisiku yang lain dan itu cukup membuatku tersenyum
puas.
“maaf.., Qonita..” seorang lelaki berperawakan sedang berkulit putih
yang kutau namanya Zaid dari teman-teman membuat langkahku terhenti.
“iya…” tanyaku heran.
“soal try out matematika tentang statistika itu dijabarkan
keseluruhannya ya?” tanyanya balik.
“iya.., karena setiap step memberikan penjelasan untuk step
berikutnya” jawabku.
“Alhamdulillah berarti saya benar, bisa kita diskusi nanti ba’da
dzuhur di mushalla?” tanyanya lagi.
“insya Allah” jawabku singkat”
“baiklah, kita ketemu nanti siang” ucapnya yang kujawab dengan
anggukan kecil. Aku belum terlalu mengenal siapa sosok Zaid, yang kutau dia
salah satu siswa yang dibanggakan guru-guru di sekolah ini.
Siang itu seperti rencana, diskusi kecil-kecilanku berlansung. Aku
merasa nyaman bertukar fikiran dengannya. Keluasan wawasannya di bidang
matematika meski dia bukan dari jurusan IPA membuat kami cepat menyatu. Diskusi
itu berlanjut setiap empat kali sepekan, dan tidak hanya secara lansung namun kami
juga biasa saling menghubungi lewat via telephon bila ada suatu materi yang
tidak kami fahami. Untuk yang pertama kalinya aku bisa akrab dengan orang
selain teman kelasku. Kedekatan itu mulai kurasakan berbeda.
“Qonita…” panggil Zaid perlahan saat diskusi kami berlansung.
“mmm…” jawabku singkat tanpa menoleh dan tetap sibuk dengan soal
geometriku.
“cepat sekali waktu berlalu ya, beberapa hari lagi pengumuman
kelulusan akan keluar dan kamu akan terbang menggapai mimpimu.” Ucapnya yang
membuat tanganku terhenti dari aktivitasnya. Aku menghela nafas perlahan,
terasa ada duri ditenggorokanku.
“aku ingin melukis Negri Mesir dengan sastra arabku, kalau boleh aku
tau kemana langkahmu selanjutnya?”
“Mesir?” ucapku dengan suara hampir berbisik.
“aku ingin memeluk Negri sakura dengan sayap-sayap matematikaku”
lanjutku. Pernyataannya dan jawabanku membuat kami membisu. Ada berat yang
kurasakan dan aku yakin iapun merasakannya.
“jujur, aku ingin segera menggapai mimpiku, namun aku mulai takut saat
ia mendekat. Aku mengenalmu saat pidato dikegiatan yasinan kita, dan jujur dari
sana aku mulai memperhatikanmu, maaf tapi kini hadirmu terasa mengikat
langkahku” ucapnya. Tubuhku bergetar hebat, kembai kami membisu. Diskusi hari
itu terasa bagai sebuah perpisahan.
***
Hari-hari mulai berlalu, pengumuman kelulusan telah keluar. Zaid
sepertinya menemukan titit terang untuk mimpinya. Ia diterima di Universitas Al
Azhar Cairo dan dia mulai sibuk mempersiapkan segala persyaratanya sementara
aku belum memiliki kepastian apapun.
“Qonita, kamu dipanggil sama Pak Anwar, disuruh ke ruang guru segera”
kata teman sekelasku. Aku lansung beranjak menuju ruang guru.
Sesampaiku di ruang guru, kulihat pak Anwar tersenyum menyambutku.
“luar biasa, bapak sudah menebak sebelumnya kalau kamu pasti bisa
mendapatkan beasiswa ini. Selamat Qonita, pekan depan kamu akan terbang ke
Negri sakura seperti impianmu” ucap pak Anwar. Aku tak bisa berucap apapun,
hanya air mata yang kurasakan mengalir perlahan dipipiku.
Aku keluar dari ruang guru dengan perasaan puas tak menentu, tampak
sesosok tubuh yang tak asing bagiku menungguku di bibir pintu dengan senyum
khasnya.
“sepertinya sayap-sayapmu mulai terlihat, sastrakupun mulai tergores.
Besok pagi aku terbang ke Negri padang pasir” ucap Zaid lirih.
“bila sebuah garis AB dipotong, maka ia akan membentuk dua buah garis
dengan nama yang berbeda. Aku tidak tau dengan variable apa engkau akan
menyatu.” Ucapku.
“jangan katakana aku adalah sebuah garis karena ia akan menjadi sebuah
titik bila dipartisi menjadi bagian terkecil, tapi aku adalah sebuah titik yang
meski dipartisi bagaimanapun ia tetap dinamakan titik. Kemanapun langkahku, aku
tetap Zaid yang kau kenal” lanjutnya. Aku terdiam sejenak, kemudian berujar
“proposisi itu sebuah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi
tidak bisa sekaligus keduanya. Akhirnya nanti cuman satu, benar atau salah. Aku
tak pernah tau apa yang akan terjadi. Jarak diantara kita terlalu jauh. Harapan
itu terlalu kecil” ucapku pasrah
“dalam konsep aljabar biasa kita fahami a + (b.c) = (a + b) . (a + c)
itu tidak ada, bahkan bisa dibilang mustahil namun aljabar Boolean menyajikan
suatu yang berbeda dari biasanya. Konsep a + (b.c) (a + b) . (a + c) itu benar
untuk hukum distributifnya. Yang ingin saya katakana bahwa tidak ada yang
mustahil. Bila dalam suatu ranah ia mustahil maka diranah yang lainnya ia
bahkan sangat mungkin terjadi” jawabnya tegas. Kebisuan itu terasa menyusup
relung jiwa kami, dan akhirnya..
“Qonita, bila ruang kosong di dalam hatimu masih ada, suatu saat nanti
aku akan datang memintamu menjadi bidadari dalam syurga kecilku. Aku berharap
engkaulah bidadari bermata jeli yang menempati sudut hatiku” lanjutnya. Aku
tertunduk dalam diam.
“engkau kuanggap sebuah titik mulai sekarang dan untuk selamanya”
lirihku kemudian berlalu meninggalkannya.
“kutunggu kau kembali dengan merpati sastramu..” batinku saat
kurasakan langkahku semakin menjauhinya.
Drrrrrttt….Drrrttt
Getaran ponselku menyentakku kembali ke alam sadar, setangkai bunga
sakura tampak jatuh dari dahannya dan menimpa jendela asramaku.
“kak, saya tunggu di kampus” pesan singkat Syakira, adek tingkatku
yang juga mahasiswa dari Indonesia mengingatkaku akan janji dengannya. Aku
segera melangkahkan kakiku menuju kampus. Pepohonan sakura yang berbaris
sepanjang jalan membuatku begitu tentram.
“Qonita..” panggil kak Ihsan, kakak tingkat yang juga mahasiswa
program beasiswa dari Indonesia setibanya aku di kampus. Setidaknya ada lebih
dari sepuluh mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan sama denganku yang
kukenal.
“iya kak..” jawabku
“kita rapat ntar sore di taman, kirim pesan undangan buat anggota
Himpunan Mahasiswa Indonesia lainnya ya.., bisa kan?” lanjut kak Ihsan.
“bisa kak..” jawabku. Tanpa kusadari dikejauhan sana tampak Syakira
memperhatikanku.
“kak, saya duluan ya.., udah ditunggu dari tadi sama Syakira” ucapku
yang dijawab dengan anggukan dan senyum wibawanya.
“kakak deket sekali ya sama kak Ihsan” kata Syakira saat aku
mendekatinya. Aku tersenyum mendengan pernyataannya.
“wajar dek, kakak sekertaris himpunan dan beliau ketuanya” jawabku
sekenanya.
“Ooo..” jawab Syakira namun seperti menyembunyikan sesuatu. Ada sinar
berbeda yang kulihat dari matanya.
“oya, kita rapat nanti sore”
“oke”
“bisa kita mulai diskusinya?” lanjutku
“oke lagi” jawab Syakira. Aku memandangi kak Ihsan yang berdiri dengan
temannya tak jauh dari tempat kami.
“sebenarnya sesuatu itu memang ada” batinku.
***
Aku mulai membuka rapat saat semua anggota sudah hadir. Rapat sore itu
dirangkai dengan penampungan ide masing-masing.
“bagaimana kalau seminar tentang aplikasi matematika dalam kehidupan?”
ucap Syakira menyampaikan pendapatnya.
“sepertinya materi tentang itu sudah banyak sekali, saya lebih
berharap seminar ini membicarakan tentang kebudayaan Indonesia agar peserta
yang dari luar ataupun jepang sendiri memahami sedikit tentang budaya kita.
Nanti bisa kita kolaborasikan dengan agama” ucapku.
“saya sependapat dengan Qonita, sepertinya banyak juga mahasiswa
Indonesia yang tidak terlalu faham budaya sendiri dan saya rasa hal itu bisa
mengobati kerinduan kita pada Negeri sendiri” sambut kak Ihsan.
Hari semakin beranjak sore membuat kami mengehentikan rapat sampai
disitu.
“Qonita, nantian ya pulangnya. Kita rapikan data anggota dulu” ucap
kak Ihsan. Aku memandang Syakira yang duduk disampingku.
“saya duluan kak, mau ke perpus sebentar” ucap Syakira lansung.
“iya” jawabku.
Kurapikan data anggota satu persatu, sampai pada data Syakira tanganku
terhenti. Kak Ihsan memandang kearah nama tersebut.
“Syakira…,” desahnya perlahan
“berapa sih pengurus yang namanya Syakira?” Tanya kak Ihsan
melanjutkan.
“sepertinya dua kak, yang tadi namanya Syakira humaira dan satuan lagi
Syakira margareta.” jawabku.
“oya, suruh Syakira Humaira ngurus masalah pemateri” lanjut kak Ihsan
“Syakira?, kenapa mesti?” batinku.
“saya hubungi dia sekarang kak” ucapku. Beberapa menit kemudian
Syakira datang dan aku segera beranjak.
“kakak mau kemana?” Tanya Syakira
“ada yang mau kakak urus di asrama, kakak duluan ya” ucapku.
Kupandangi kak Ihsan yang nampak kebingungan namun tak terlalu kuhiraukan. Yang
jelas aku ingin segera meninggalkan mereka.
***
Acara seminar berlansung lancar, aku berdiri puas memandang peserta
yang membeludak. Tanpa kusadari kak Ihsan sudah berdiri disampingku. Ia
memandang antusias peserta di depannya. Kualihkan pandangan ke arahnya, nampak
ia memperhatikan satu objek dengan senyum dibibirnya. Kutelusuri garis
pandanganya yang baru kufahami bahwa ia memperhatikan Syakira yang sibuk
menjadi moderator di depan. Ada sedikit sakit di hatiku kurasakan, namun
bayanganku pada sosok Zaid membuatku membuang jauh-jauh sakit itu.
Setelah acara selesai Syakira mendekatiku
“acara yang kakak dan kak Ihsan konsep benar-benar luar biasa.
Pemikiran kalian selalu sama ya. Mmmm.., kalian terlihat serasi berdiri
berdampingan..” ucap Syakira dan aku mulai mengerti arah bicaranya.
“sifat kakak sama kak Ihsan bisa dibilang sama, beliau pendiam
kakakpun begitu, beliau suka segala hal yang matematis kakakpun suka dan masih
banyak kesamaan yang nampak. Tapi kamu tau, garis yang sejajar hanya akan
selalu beriringan namun tidak akan pernah menyatu ujungnya sampai kapanpun
karena mereka punya tujuan masing-masing. Kakak rasa itu aksioma yang tidak
perlu dibuktikan lagi.” Ucapku panjang lebar.
“tapi kak, penjumlahan dua buah matriks hanya dapat dijumlahkan jika
kedua ukurannya sama” bantah Syakira.
“dan darimana adek tau ukuran hidup kami sama?, malah kakak merasa
sangat berbeda. Kak Ihsan mencari ujung sebuah garis yang datang dari arah lain
bukan searah atau sejajar dengannya dan sepertinya garis lain itu sedang
disampingku saat ini” jawabku. Nampak Syakira menunduk dan kulihat kak Ihsan
tersenyum setuju.
“bila kita misalkan A dan B adalah sebuah himpunan, relasi biner f
dari A ke B merupakan sebuah fungsi jika setiap elemen di dalam A dihubungkan
tepat satu elemen di dalam B. kakak percaya itu juga berlaku dalam konsep
pasangan hidup yang telah ditentukan-Nya meskipun nanti akan ada fungsi yang
bersifat injektif, bijektif maupun surjektif” ucapku lagi.
“saya kira kakak suka sama kak Ihsan” aku Syakira malu-malu.
“kakak hanya sekedar kagum sama kak Ihsan. Ruang kosong dihati kakak
sudah dipersiapkan untuk seseorang di Cairo sana” ucapku dengan senyum. Kagum?,
ya…. sepertinya aku memang hanya sekedar kagum. Aku kembali teringat pada sosok
berperawakan sedang dan berkulit putih di Cairo sana, ada yang terasa ringan
dalam jiwaku.
“aku berharap engkau tetap sebuah titik seperti yang kau ucapkan dan
aku akan tetap yakin aksioma hukum distributive a + (b.c)=(a + b) . (a + c)
pada aljabar Boolean itu tidak mustahil” batinku.
Drrrrt…Drrrt…,
Ponselku bergetar, sebuah nomer baru dengan kode Negara luar tampak
dilayarnya.
“bagaimana kabarmu bidadari sakura?, aku sebuah titik yang tak akan
pernah berubah meski jarak itu terbentang”. Aku mengulum senyum saat suara khas
dari Negri padang pasir itu menyapaku.
Mataram, 27 Mei 2012
Ahad, pukul 00.02 Dini hari
Benar-benar kunisbatkan hatiku pada-Mu ya Robb.,
hingga sudutnya yang saat ini kosong
Kau tempatkan untuk orang yang Engkau Ridhoi untukku.
Maka biarkan aku tenang dengan cinta-Mu..


0 komentar:
Posting Komentar