Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Posted by Faisal
No comments | Jumat, Juni 07, 2013



Dalam sebuah hajatan haulan (peringatan hari kematian) almaghfurlah KH. Ali Ma’shum di Pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta, almaghfurlah KH Fuad Hasyim (Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon) menjelaskan pentingnya menyelenggarakan haulan seorang tokoh. ”Ada tiga alasan kenapa disunnahkan menyelenggarakan holan seorang tokoh masyarakat,” kata Kang Fuad –demikian KH Fuad Hasyim biasa dipanggil.

Pertama, pentingnya arti mengingat kematian. Kita harus selalu ingat bahwa Allah SWT siap mengambil nyawa kita tanpa perlu permisi. Alasan kedua, kita butuh mengenang jasa-jasa orang saleh seperti kiai atau ulama. Kenapa kebutuhan? Jawabnya, agar kita bisa meniru, menghidupkan lagi, menyebarkan, amal-amal saleh yang telah dilakukan olehnya. Dengan kata lain, haulan adalah sebuah upaya melanjutkan sunnah hasanah (tradisi baik) yang telah dilakukan almarhum. Kalau ini bisa dilakukan dengan baik, maka pahala bukan hanya kita yang mendapatkan, tapi juga bagi almarhum.

Alasan ketiga, kata Kang Fuad, tak kalah pentingnya adalah, mendoakan almarhum. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan kirim dungo, mengirimkan doa. Ritual kirim dungo yang dilakukan secara berjama’ah tidak hanya berdimensi transendental (Tuhan), tapi juga sosial. Haulan merupakan forum perjumpaan dan solidaritas sosial (silaturahim). Sebab, dengan berkumpul atau berjama’ah, jaring-jaring sosial akan semakin kukuh.


Saya masih ingat, bagaimana gaya almarhum Kang Fuad menjelaskan makna dan fungsi holan dengan panjang lebar, namun tetap ringan, mudah dipahami dan menghibur. Kang Fuad memang dikenal singa podium. Ia bukan saja alim ilmu agama dan sempurna menguasi retorika, tapi juga bersuara merdu, sehingga ia selalu menyelipkan dua atau tiga lagu berbahasa Arab atau Jawa dalam tiap cermahnya, tentu saja shalawat kepada Nabi SAW tak ketinggalan. “Hebatnya”, Kang Fuad tidak selalu menyelipkan dalil-dalil agama (nash Al-Qur’an, hadits, serta pendapat para ulama). Kenapa “hebat”? Karena ia yakin bahwa “tindakan agama” tidak musti disandarkan pada “dalil-dalil agama” (tekstual/nash, Al-Quran dan hadits). Dan memang, ritual haulan tidak ada dalil agamanya, secara khusus dan tersurat.
Posted by Faisal
No comments | Jumat, Juni 07, 2013



Sehari menjelang tradisi sebar apem Yaqowiyu 2 gunungan apem di kirab dari kantor Camat Jatinom menuju masjid Agung Ki Ageng Gribig. Kirab diikuti sejumlah pasukan mulai dari masyarakat biasa hingga keluarga keturunan Ki Ageng Gribig.

Kirab gunungan apem Yaqowiyu dilakukan pada kamis sore dan diawali dari halaman kantor kecamatan jatinom. Kirab 2 gunungan apem lanang dan wadon diiringi sekitar seribuan orang mulai dari pasukan paguyuban Kraton Surakarta (Pakoso) Reog dari Wonogiri hingga para sahabat dan keluarga Ki Ageng Gribig. Disepanjang jalan yang dilalui arak-arakan gunungan apem langsung dipenuhi warga masyarakat Jatinom yang hendak menyaksikan gunungan apem yang akan disebar pada Jumat siang.


Camat Jatinom Joko Purwanto mengungkapkan total pem yang akan disebar dalam acara Yaqowiyu sekitar 85 ribu apem atau seberat 4,5 ton sedangkan apem dibuat secara swadaya masyarakat Jatinim dan diluar Jatinom seperti Karanganom, Ngawen serta daerah Boyolali. Dalam kirabnya gunungan apem singgah sebentar di masjid Alit atau masjid pertama yang didirikan oleh Ki Ageng Gribig. Yang kemudian di kirab menuju di halaman masjid Gedhe DAM diserah terimakan dari masyarakat Jatinom kepada Ki Ageng Gribig yang diperankan oleh Gus Abid tokoh ulama Klaten. Setelah didoakan gunungan apem disemayamkan semalam di masjid Gedhe Jatinom. Sedangkan sejumlah pejabat langsung melakukan ziarah ke makam Ki Ageng Gribig.
Posted by Faisal
No comments | Jumat, Juni 07, 2013



Peninggalan karya Sunan Kalijaga lainnya adalah wayang dan gamelan yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu, yang sekarang tersimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.

Dalam hal pewayangan, Sunan Kalijaga dikenal dengan karya/lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu. Cerita Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir, sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat.

Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Kalijaga adalah putra dari Wilwantikta, Adipati Tuban. Nama aslinya Raden Said (Raden Syahid), sementara menurut babad, serat, Sunan Kalijaga juga disebut Syekh Malaya, Raden Abdurrahman, dan Pangeran Tuban. Sedangkan gelar “Kalijaga” sendiri banyak berbagai tafsir. Salah satu tafsir, ada yang menyatakan asal kata jaga (menjaga), dan kali (sungai). Versi ini dilandasi dasar pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun di tepi sungai. Ada juga kata itu diambil dari nama sebuah desa di Cirebon, tempat ia melakukan dakwah.

Salah satu diantara beberapa karya Sunan Kalijaga yang terkenal adalah tembang ataupun Kidung Rumekso Ing Wengi.

ana kidung rumekso ing wengi
teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami

guna duduk pan sirno